Archive for August, 2009
Jakarta Tempo Dulu
by on Aug.23, 2009, under Jakarta's/Batavia's Heritage (Clipping)
Buat sobat yang mau tahu sejarah Jakarta silakan klik link di bawah :
http://www.bappedajakarta.go.id/sekilassejarah1p1.asp
http://www.bappedajakarta.go.id/sekilassejarah3p1.asp
http://www.bappedajakarta.go.id/sekilassejarah4p1.asp
Menciptakan Romantisme Masa Lalu di TPO Beos
by on Aug.18, 2009, under Jakarta's/Batavia's Heritage (Clipping)

TULISAN ini terinspirasi dari pengalaman diri sendiri sekaligus masukan banyak pihak, khususnya warga. Ini tentang Terowongan Penyeberangan Orang (TPO) Beos. Bagi pembaca yang barangkali tidak mengetahui peristiwa di saat TPO itu mulai dibangun, melintas di TPO tak menimbulkan sensasi apapun. Tapi bagi siapapun yang paham betul – dan mengikuti kasus saat pembangunan - di lahan apa TPO berada, melewati TPO itu tentu akan disambut sekelebatan masa lampau. Seperti berada di abad yang sudah lewat.
Bisa jadi orang lain akan mengatakan, itu hanya perasaan orang-orang tertentu saja, “Romantisme masa lalu yang terlalu dipaksakan.” Bisa jadi, memang. Namun tahukah pembaca bahwa pembangunan TPO ini punya kisah yang tak perlu terulang dalam rangka pembangunan kota? Kisah yang menghilangkan romantisme tadi. Romantisme yang suka atau tidak, sadar atau tidak, tak bisa dilepaskan dari sejarah mahluk hidup.
Ketika TPO mulai dibangun, tanah dikeduk, berbagai temuan arkeologis muncul. Tak aneh, sebab tempat di mana TPO dibangun adalah kawasan bersejarah Jakarta, di mana Jakarta pernah berpusat dengan nama Batavia. Meski jelas-jelas ditemukan tembok kuno, proyek tancap gas, jalan terus, gerus terus. Lantas secepatnya tutup semua. Biar ribut tak berkepanjangan, begitu kan.
Bahwa tembok itu dinyatakan bukan bagian dari tembok Batavia sisi Selatan –seperti yang semula diduga- tapi kenyataan bahwa ada temuan arkeologis tak bisa dilihat sebelah mata. Alangkah bijak jika semua temuan dalam rangka pembangunan TPO bisa tersimpan dan terdokumentasi dengan baik demi penyusunan sejarah kota ini yang barangkali belum lengkap.
Kembali pada inspirasi yang datang dari sebagain warga Jakarta tadi, membayangkan sebagian sisi tembok TPO berdinding kaca yang bisa langsung ditembus mata pejalan di sana. Di balik dinding kaca, terpampang tembok beserta saluran air dan rel trem, yang diperkirakan peninggalan dari abad yang berbeda, yang ditemukan saat pembangunan.
Narasi pun dipersiapkan sehingga pejalan kaki atau siapa saja yang ingin “berwisata heritage” ke sini bisa memahami betapa berharganya TPO itu. Jika dinding kaca tak mampu menahan mengapa tidak berupaya menyediakan satu lahan khusus di TPO itu untuk memamerkan temuan dalam bentuk potongan dan foto-foto saat proses penggalian. Bukankah ini salah satu cara kita menghargai warisan budaya yang ada di Jakarta? Melestarikannya demi kepentingan generasi saat ini dan mendatang sekaligus sebagai sarana menciptakan atraksi pariwisata (dalam hal ini wisata warisan budaya – heritage tourism)?
Romantisme masa lampaukah ini? Terserah bagaimana masing-masing orang menginterpretasikannya. Toh, di negara tetangga – tak usah cari contoh di negeri salju – romantisme masa lalu ini dipelihara dan menghasilkan piti bagi kota mereka.
Pradaningrum Mijarto
Yang Tersisa dari (Bekas) Taman Stasiun Beos….
by on Aug.18, 2009, under Jakarta's/Batavia's Heritage (Clipping)
MEMANDANG lembaran foto hitam putih, yang bicara tentang lingkungan Stasiun Beos, khususnya lagi tentang Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) akan mengingatkan kita pada sebuah tugu yang dibangun di tengah taman di seberang stasiun. Tugu itu tak lain adalah tugu jam, yaitu tugu dengan tiga jam bulat di atasnya—menghadap ke tiga arah.
Tugu itu ternyata sudah berdiri tegak di tempat sekarang ini sejak NHM mulai dibangun sekitar tahun 1929. Dari beberapa lembar foto kuno milik Museum Bank Mandiri—NHM di masa lalu—dengan pemandangan dari arah Stasiun Beos ke arah pembangunan gedung NHM, langsung terlihat sang tugu berdiri sendiri di antara hamparan rumput yang cukup luas.
Foto dari tahun 1930-an itu menunjukkan bahwa di depan Stasiun Beos terdapat taman yang cukup luas dengan tugu jam di tengahnya. Tugu itu tak bernama dan sejarahnya pun tak terlacak. Setelah melihat beberapa foto lama NHM, bisa disimpulkan bahwa tugu jam itu sudah ada sejak Stasiun Beos dibangun (stasiun ini kelar dibangun pada 1929). Tampaknya tugu itu bagian dari desain lengkap Stasiun Beos dan lingkungannya.
Meski sudah terbengkalai, tugu jam itu masih berdiri di titik yang sama. Jika hingga sekitar tahun 2006 tugu ini masih ada dalam taman stasiun—meski dengan luas taman yang sudah sangat menyusut—kini tugu itu berdiri bagaikan kakek yang kesepian. Halte transjakarta mengubah total wajah taman termasuk keberadaan tugu jam tadi.
Tugu jam itu tak bernama, kisahnya pun tak terendus. Sudah nyaris tiga tahun ini pembangunan halte transjakarta belum juga menyentuh pembenahan bekas taman beserta tugu jam. Tengok saja kondisinya, seperti siap dibongkar, dihilangkan sehingga tak meninggalkan jejak.
Lebih membingungkan lagi, tugu jam itu ada dalam kawasan taman Stasiun Beos—menjadi milik PT KA—tapi juga ada di bawah tanggung jawab DKI karena kawasan itu masuk dalam kawasan yang dilindungi oleh SK Gubernur DKI No 475/1993 sebagai situs. Sebuah sumber yang terkait pada kepemilikan tugu menyatakan kecewa karena taman kini hilang hanya gara-gara halte. Tugu pun ikut rusak.
Jam di Tugu Taman Beos Disangka Telah Hilang
by on Aug.18, 2009, under Jakarta's/Batavia's Heritage (Clipping)

KOMPAS.com — Pada Selasa (11/8) sore, beberapa orang yang sedang berdiri di halaman Museum Bank Mandiri (MBM) sempat terhenyak ketika melihat jam di atas tugu di taman seberang Stasiun Beos kosong melompong. Ketiga jam yang menyatu di tugu lenyap! Sontak, Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kota Tua Candrian Attahiyyat pun bergerak. Warta Kota juga segera mencari konfirmasi tentang hal tersebut ke pihak Stasiun Jakarta Kota (Beos).
Kejadian itu tentu segera mengingatkan kami yang sedang berkumpul di MBM pada kejadian 10 tahun lalu ketika Hermes menghilang. Pasalnya, pihak UPT Kota Tua pun tak tahu menahu perihal ketiga jam tersebut. Pihak stasiun lebih lagi. Jatun, Kepala Stasiun Jakarta Kota, malah ikut kaget. “Wah, enggak tahu. Itu kan urusan pemda. Sejak ada halte busway, kami sudah enggak ikut campur di taman itu,” tandasnya dan diamini pula oleh staf humas, Radjab.
Menurut Radjab, sebelum ada halte, memang pihak PT KA-lah yang mengurus taman beserta jam di tugu. “Kan sering kali sudah lambat jalannya atau mati, kami betulkan,” ujarnya.
Sementara itu, dari para pedagang asongan di kawasan taman halte transjakarta hanya didapat keterangan, jam itu diangkut entah oleh siapa pada Senin (10/8). Memang, Minggu,(9/8) sore, Warta Kota masih melihat jam itu ada di tempatnya. Hingga sekitar pukul 20.00, akhirnya baru ada jawaban dari pihak Dinas Pertamanan DKI.
Kepala Dinas Pertamanan Ery Basworo, hingga Dwi Bintarto dan Linda Mulyani pun ikut menjawab. Jawabannya, jam itu ternyata sedang diservis. “Sudah diganti baterai tapi kok mati lagi, jadi kami servis tiga-tiganya. Mudah-mudahan minggu depan selesai,” kata Ery.
Seharusnya, ada komunikasi yang tak membuat orang, khususnya yang peduli pada Kota Tua dan keberadaan salah satu ikon Kota Tua itu, terkejut karena tak mendapat informasi apa yang akan dilakukan dengan jam tersebut. Tak hanya jam di tugu itu, tetapi tentu berbagai hal terkait bagian sejarah Kota Tua.
Bahwa sejarah jam belum diketahui, tetap saja ia bagian dari tugu yang sudah nongkrong di taman itu setidaknya sejak 1929. Candrian juga belum bisa memastikan dari tahun berapakah jam itu. Boleh jadi memang tidak dari tahun 1926 atau 1929, tetapi siapa tahu lempengnya, atau beberapa bagian dari jam itu adalah bagian dari tahun 1920-an.
Warta Kota pernah menuliskan keberadaan tugu dan lapangan seberang stasiun. Foto lama koleksi MBM menunjukkan, tugu jam sudah berdiri di tempatnya sekarang sejak Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM)—MBM kini—mulai dibangun sekitar tahun 1929. Dalam foto dari tahun 1930-an itu terlihat, di depan Stasiun Beos terdapat taman yang cukup luas dengan tugu jam di tengahnya. Tugu itu tak bernama dan sejarahnya pun tak terlacak. Setelah melihat beberapa foto lama NHM, bisa disimpulkan bahwa tugu jam itu sudah ada sejak Stasiun Beos dibangun (sekitar 1926 dan kelar pada 1929). Tampaknya tugu itu bagian dari desain lengkap Stasiun Beos dan lingkungannya.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto
Looking for something?
Use the form below to search the site:
Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!
Visit our friends!
A few highly recommended friends...
Archives
All entries, chronologically...




